Bagi guru-guru SMA Negeri 5 Surabaya belajar adalah tidak hanya untuk murid saja, tetapi guru-guru juga wajib terus belajar. Setelah beberapa waktu lalu workshop yang lain yaitu tentang pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran, kini workshop tentang penyusunan Perangkat Pembelajaran Mendalam yang disampaikan oleh Pengawas Sekolah Bapak Drs Hari Indarjoko, M.Pd dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sidoarjo (Kota Surabaya-Kab. Sidoarjo) yang dilaksanakan pada tanggal 9-10 Oktober 2025 di ruang serbaguna SMA Negeri 5 Surabaya. Beliau memberikan gambaran awal bahwa pembelajaran mendalam itu harus dimulai dari Pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan tinggalkan Pola Pikir Tetap (fixed mindset). Pola pikir bertumbuh merupakan pola pikir yang terbuka bahwa kemampuan dan kecerdasan sesorang bisa dicapai melalui upaya atau usaha dan belajar yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang (gigih). Sebaliknya pola pikir tetap menganggap bahwa kemampuan adalah bawaan sejak lahir yang cenderung menjudge terhadap hal-hal yang baru, sehingga pola pikir ini harus dihindari dalam pembelajaran mendalam. Dari gambaran tersebut para peserta (50 guru) merasa tertantang untuk selalu mencari sesuatu yang baru guna memotivasi murid-murid dalam belajar dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sesuai kaidah pembelajaran mendalam.

Sementara narasumber lain yaitu Damari, M.Pd yang merupakan Tim Pengembang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang juga Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum di SMA Negeri 5 Surabaya memberikan materi tentang bagaimana teknis pelaksanaan pembelajaran mendalam di SMA Negeri 5 Surabaya mulai penyusunan perangkat pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler hingga proyek kolaborasi antar mata pelajaran di sekolah ini.

Semoga dengan workshop dan pelatihan ini, guru SMA Negeri 5 Surabaya semakin berkompeten dalam melayani murid-murid dalam pembelajaran mendalah yang akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya dan di SMA Negeri 5 Surabaya utamanya.